Kebijakan Khilafah Mengatasi Banjir

Kebijakan Khilafah Mengatasi Banjir.

Oleh: Syamsuddin Ramadhan An Nawiy

Untuk mengatasi banjir dan genangan, Khilafah Islamiyyah tentu saja memiliki kebijakan canggih dan efisien. Kebijakan tersebut mencakup sebelum, ketika, dan pasca banjir.   Kebijakan untuk mencegah terjadinya banjir dapat disarikan sebagai berikut;
Pertama, pada kasus banjir yang disebabkan karena keterbatasan daya tampung tanah terhadap curahan air, baik akibat hujan, gletsyer, rob, dan lain sebagainya, maka Khilafah akan menempuh upaya-upaya sebagai berikut;
  1. Membangun bendungan-bendungan yang mampu menampung curahan air dari aliran sungai, curah hujan, dan lain sebagainya.  Di masa keemasan Islam, bendungan-bendungan dengan berbagai macam tipe telah dibangun untuk mencegah banjir maupun untuk keperluan irigasi.  Di Provinsi Khuzestan, daerah Iran selatan misalnya, masih berdiri dengan kokoh bendungan-bendungan yang dibangun untuk kepentingan irigasi dan pencegahan banjir.  Bendungan-bendungan tersebut di antaranya adalah bendungan Shadravan, Kanal Darian, Bendungan Jareh, Kanal Gargar, dan Bendungan Mizan.  Di dekat Kota Madinah Munawarah, terdapat bendungan yang bernama Qusaybah.  Bendungan ini memiliki kedalaman 30 meter dan panjang 205 meter.  Bendungan ini dibangun untuk mengatasi banjir di Kota Madinah.  Di masa kekhilafahan ‘Abbasiyyah, dibangun beberapa bendungan di Kota Baghdad, Irak.  Bendungan-bendungan itu terletak di sungai Tigris.  Pada abad ke 13 Masehi, di Iran dibangun bendungan Kebar yang hingga kini masih bisa disaksikan.  Di wilayah Afghanistan, kini terdapat tiga buah bendungan yang dibangun oleh Sultan Mahmud Ghaznah (998-1030 Masehi).  Satu di antara tiga bendungan itu dinamakan dengan Bendungan Mahmud, dengan tinggi 32 meter dan panjang 220 meter.  Bendungan ini terletak di 100 km dari Kabul.Model bendungan yang dibangun oleh insinyur Muslim pun beragam.  Bahkan, model-model bendungan modern banyak mengadopsi model bendungan yang diciptakan oleh kaum Muslim.  Bendungan dengan model bridge dam(bendungan jembatan) dapat ditemukan di daerah Dezful, Iran.  Bridge dam digunakan untuk menggerakkan roda air yang bekerja dengan mekanisme peningkatan air.  Bendungan jembatan Dezful mampu menyuplai 50 kubik air untuk kepentingan warga Dezful.  Bendungan seperti ini juga dibangun di kota-kota Islam lainnya.Bendungan pengatur air (diversion dam) juga berhasil dibangun oleh sarjana-sarjana Muslim.  Bendungan ini difungsikan untuk mengatur atau mengalihkan aliran air.  Bendungan pengatur air pertama kali dibangun di sungai Uzaym, di Jabal Hamrin, Irak.  Setelah itu, bendungan model ini dibangun di daerah-daerah lain di negeri Islam. Pada tahun 970 Masehi, orang-orang Yaman berhasil membangun bendungan Parada dekat Madrid, Spanyol.  Hingga kini, bendungan-bendungan yang dibangun pada masa keemasan kekhilafahan Islam, masih bisa dijumpai di Kota Kordoba.  Di antara bendungan masyhur di Kordoba adalah bendungan Guadalviqir yang diarsiteki oleh al-Idrisi.   Bendungan ini didesain sedemikian rupa hingga bisa difungsikan untuk alat penggilingan hingga sekarang.   Di daerah Spanyol, kaum Muslim juga berhasil membangun bendungan di sungai Turia, yang mana, kehebatan konstruksinya mampu membuat bendungan ini bertahan hingga sekarang.  Bendungan ini mampu memenuhi kebutuhan irigasi di Valencia, Spanyol tanpa memerlukan penambahan sistem.  Pada tahun 370 H/960 M, Buwayyah Amir Adud al-Daulah membuat bendungan hidrolik raksasa di sungai Kur, Iran.  Insinyur-insinyur yang bekerja saat itu, menutup sungai antara Shiraz dan Istakhir, dengan tembok besar (bendungan) sehingga membentuk danau raksasa.  Di kedua sisi danau itu dibangun 10 noria (mesin kincir yang di sisinya terdapat timba yang bisa menaikkan air).  Dan setiap noria terdapat sebuah penggilingan.   Dari bendungan itu air dialirkan melalui kanal-kanal dan mengairi 300 desa.   Di daerah sekitar 100 km dari kota Qayrawan, Tunisia, dibangun dua waduk yang menampung air dari wadi Mari al-Lil. Waduk kecil difungsikan sebagai tangki penunjang serta tempat pengendapan lumpur.  Sedangkan waduk besar memiliki 48 sisi dengan beton penyangga bulat di setiap sudutnya berdiameter dalam 130 meter, kedalaman 8 meter.
  2. Khilafah akan memetakan daerah-daerah rendah yang rawan terkena genangan air (akibat rob, kapasitas serapan tanah yang minim dan lain-lain),  dan selanjutnya membuat kebijakan melarang masyarakat membangun pemukiman di wilayah-wilayah tersebut; atau jika ada pendanaan yang cukup, Khilafah akan membangun kanal-kanal baru atau resapan agar air yang mengalir di daerah tersebut bisa dialihkan alirannya, atau bisa diserap oleh tanah secara maksimal.  Dengan cara ini, maka daerah-daerah dataran rendah bisa terhindar dari banjir atau genangan.  Adapun daerah-daerah pemukiman yang awalnya aman dari banjir dan genangan, namun karena sebab-sebab tertentu terjadi penurunan tanah, sehingga terkena genangan atau banjir, maka Khilafah akan berusaha semaksimal mungkin menangani genangan itu, dan jika tidak mungkin Khilafah akan mengavakuasi penduduk di daerah itu dan dipindahkan ke daerah lain dengan memberikan ganti rugi atau kompensasi kepada mereka.
  3. Khilafah membangun kanal, sungai buatan, saluran drainase, atau apa namanya untuk mengurangi dan memecah penumpukan volume air; atau untuk mengalihkan aliran air ke daerah lain yang lebih aman.  Secara berkala, Khilafah mengeruk lumpur-lumpur di sungai, atau daerah aliran air, agar tidak terjadi pendangkalan.  Tidak hanya itu saja, Khilafah juga akan melakukan penjagaan yang sangat ketat bagi kebersihan sungai, danau, dan kanal, dengan cara memberikan sanksi bagi siapa saja yang mengotori atau mencemari sungai, kanal, atau danau.
  4. Membangun sumur-sumur resapan di kawasan tertentu.  Sumur-sumur ini, selain untuk resapan, juga digunakan untuk tandon air yang sewaktu-waktu bisa digunakan, terutama jika musim kemarau atau paceklik air.
Kedua, dalam aspek undang-undang dan kebijakan, Khilafah akan menggariskan beberapa hal penting berikut ini:
  1. Khilafah membuat kebijakan tentang master plan, di mana dalam kebijakan tersebut ditetapkan sebuah kebijakan sebagai berikut; (1) pembukaan pemukiman, atau kawasan baru, harus menyertakan variabel-variabel drainase, penyediaan daerah serapan air, penggunaan tanah berdasarkan karakteristik tanah dan topografinya.    Dengan kebijakan ini, Khilafah mampu mencegah kemungkinan terjadinya banjir atau genangan.
  2. Khilafah akan mengeluarkan syarat-syarat tentang izin pembangunan bangunan. Jika seseorang hendak membangun sebuah bangunan, baik rumah, toko, dan lain sebagainya, maka ia harus memperhatikan syarat-syarat tersebut.  Hanya saja, Khilafah tidak menyulitkan rakyat yang hendak membangun sebuah bangunan.  Bahkan Khilafah akan menyederhanakan birokrasi, dan menggratiskan surat izin pendirian bangunan bagi siapa saja yang hendak membangun bangunan.  Hanya saja, jika pendirian bangunan di lahan pribadi atau lahan umum, bisa mengantarkan bahaya (madlarah), maka Khalifah diberi hak untuk tidak menerbitkan izin pendirian bangunan.  Ketetapan ini merupakan implementasi kaedah ushul fikih al-dlararu yuzaalu (bahaya itu harus dihilangkan).  Khilafah juga akan memberi sanksi bagi siapa saja yang melanggar kebijakan tersebut tanpa pernah pandang bulu.
  3. Khilafah akan membentuk badan khusus yang menangani bencana-bencana alam yang dilengkapi dengan peralatan-peralatan berat, evakuasi, pengobatan,  dan alat-alat yang dibutuhkan untuk menanggulangi bencana.  Selain dilengkapi dengan peralatan canggih, petugas-petugas lapangan juga dilengkapi dengan pengetahuan yang cukup tentang SAR (search dan rescue), serta ketrampilan yang dibutuhkan untuk penanganan korban bencana alam.   Mereka diharuskan siap sedia setiap saat, dan dibiasakan untuk bergerak cepat ketika ada bencana atau musibah.
  4. Khilafah menetapkan daerah-daerah tertentu sebagai daerah cagar alam yang harus dilindungi.  Khilafah juga menetapkan kawasan hutan lindung, dan kawasan buffer yang tidak boleh dimanfaatkan kecuali dengan izin.   Khilafah menetapkan sanksi berat bagi siapa saja yang merusak lingkungan hidup tanpa pernah pandang bulu.
  5. Khilafah terus menerus menyosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, serta kewajiban memelihara lingkungan dari kerusakan.  Ketetapan ini didasarkan ketetapan syariat mengenai dorongan berlaku hidup bersih dan tidak membuat kerusakan di muka bumi. Khilafah juga mendorong kaum Muslim untuk menghidupkan tanah-tanah mati (ihyaa’ al-mawaat) atau kurang produktif, sehingga bisa menjadi buffer lingkungan yang kokoh.
Ketiga, dalam menangani korban-korban bencana alam, Khilafah akan segera bertindak cepat dengan melibatkan seluruh warga yang dekat dengan daerah bencana.  Khilafah menyediakan tenda, makanan, pakaian, dan pengobatan yang layak agar korban bencana alam tidak menderita kesakitan akibat penyakit, kekurangan makanan, atau tempat istirahat yang tidak memadai. Selain itu, Khalifah akan mengerahkan para alim ulama untuk memberikan taushiyyah-taushiyyah bagi korban agar mereka mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa mereka, sekaligus menguatkan keimanan mereka agar tetap tabah, sabar, dan tawakal sepenuhnya kepada Allah swt.
Inilah kebijakan Khilafah Islamiyyah mengatasi banjir.  Kebijakan tersebut tidak saja didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan rasional, tetapi juga disangga oleh nash-nash syariat.  Dengan kebijakan ini, insya Allah, masalah banjir bisa ditangani dengan tuntas. Wallahu A’lam bish shawab.[](mediaumat.com,6/1)

Muslim New York Gunakan Ramadhan untuk Sampaikan Suara Mereka

Muslim New York Gunakan Ramadhan untuk Sampaikan Suara Mereka.

Presiden AS Barack Obama saat memberikan sambutan pada acara buka puasa bersama (Iftar) di Gedung Putih.
WASHINGTON DC — Christine C Quinn, Ketua Dewan Perwakilan Kota New York dan salah satu kandidat wali kota dari Partai Demokrat, baru-baru ini datang ke acara buka puasa di sebuah tempat di Dyker Heights, Brooklyn, New York.

Menikmati sajian buka puasa itu, Christine mengatakan dia terpukau melihat besarnya pengaruh suara warga Muslim dalam pemilu lokal di sana.

Christine bukan satu-satunya calon wali kota yang hadir dalam acara tersebut. Selain dia, juga ada John C Liu dan Sal F Albanese, juga dari Partai Demokrat. Ini juga bukan pertama kalinya bagi mereka menghadiri acara yang dijamu warga Muslim sepanjang masa kampanye.

Acara buka puasa minggu ini diadakan Federasi Arab Muslim Amerika, sebuah organisasi utama yang mewakili 17 organisasi sipil, pendidikan, dan keagamaan. Diperkirakan ada sekitar 105.000 warga Muslim yang terdaftar untuk memilih di kota New York.

Seusai acara buka puasa, Christine diundang berpidato. Ia mengatakan, komunitas Muslim kini tampak jelas pada peta politik di New York dan menambahkan bahwa berakhir sudah masa di mana kepentingan dan signifikansi komunitas Muslim diabaikan oleh pemerintah.

Ia bahkan menjanjikan akan menambah dua hari libur sekolah resmi untuk memperingati hari raya Islam—dan ia disambut dengan tepuk tangan dari para peserta buka puasa.

Calon lainnya di acara itu, John Liu, juga berbicara. Mengawali dengan mengucapkan "Assalamualaikum", ia berjanji akan berusaha keras memenangkan pemilihan wali kota dan mengubah kota New York.

Sejak serangan teror 11 September 2001, Pemerintah Amerika berusaha meyakinkan warga Muslim di Amerika bahwa Amerika tidak melakukan perang terhadap Islam. Sejak 2007, Kongres Amerika setiap tahun telah meloloskan resolusi untuk menandai dimulainya bulan Ramadhan sebagai bentuk solidaritas.

Resolusi tahun ini, yang disponsori anggota Kongres Eddie Johnson dari Partai Demokrat, menyatakan Kongres Amerika pada 14 September 2001 meloloskan resolusi yang mengecam sikap tidak toleran dan kekerasan terhadap orang Amerika keturunan Arab, Muslim di Amerika, dan orang Amerika keturunan Asia Selatan.

Resolusi 289 itu juga menyebutkan ada 3.600 umat Muslim yang aktif sebagai tentara dalam militer Amerika dan lebih dari 1.700 lainnya yang menjadi tentara cadangan.

Pangeran Saudi Meminta Genosida di Suriah Diakhiri

Pangeran Saudi Meminta Genosida di Suriah Diakhiri
Tentara Pembebas Suriah menggotong rekannya yang terluka ke Rumah Sakit Dar al-Shifaa, Aleppo, Selasa, 30-10, 2012. Islamic Blog
Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Salman bin Abdul Azis pada Kamis, 18 Juli 2013, menyerukan agar genosida terhadap rakyat Suriah segera diakhiri. Seruan itu disampaikan Putra Mahkota ketika bertemu dengan Ahmed Aowainan Al-Jarba, pemimpin oposisi Koalisi Nasional Suriah di Jedah.

Kantor berita SPA melaporkan, Al-Jarba, dalam pertemuan tersebut, mendapatkan penjelasan dari Putra Mahkota mengenai penderitaan rakyat Suriah di bawah kepemimpinan rezim Presiden Bashar al-Assad.

SPA melanjutkan, Putra Mahkota Saudi menekankan bahwa Kerajaan ingin segala bentuk yang mengarah pada pembasmian dan penderitaaan rakyat Suriah bisa dikahiri selekasnya.

Kerajaan Arab Saudi adalah pendukung terbesar kelompok perlawanan Suriah yang ingin menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad. Sejak awak konflik yang telah berlangsung selama dua tahun, Kerajaan bergabung dengan kekuatan internasional guna melawan Presiden Assad.

Dalam konflik perang sipil yang kian berkembang, Arab Saudi berdiri di belakang Tentara Pembebasan Suriah dengan memberikan dukungan persenjataan guna mengalahkan pasukan Assad.

Ormas Islam Malaysia Tuntut Pengusiran Utusan Vatikan

Ormas Islam Malaysia Tuntut Pengusiran Utusan Vatikan.

Beberapa organisasi kemasyarakatan Islam di Malaysia hari Jumat (19/07/2013) menuntut pemulangan utusan Vatikan di Malaysia. Utusan Vatikan yang baru pertama kalinya ini digambarkan sebagai "musuh negara", setelah ia mendukung penggunaan kata "Allah" oleh non-Muslim. Puluhan pengunjuk rasa berkumpul di luar misi Vatikan di Kuala Lumpur, ibukota Malaysia setelah shalat Jumat, mendesak pemerintah mengusir Uskup Agung Joseph Marino.
Marino, yang tiba di Kuala Lumpur kurang dari enam bulan yang lalu, baru-baru ini menimbulkan kecaman dari pemerintah, setelah dia mendukung penerjemahan kata "Tuhan" ke kata "Allah" dalam Alkitab berbahasa Melayu dan sastra lainnya.
Dia menggambarkan, argumennya mendukung langkah yang diajukan oleh Gereja Katolik dalam sidang pengadilan yang sedang berlangsung atas masalah ini sebagai "logis dan dapat diterima".
Marino pada hari Selasa dipanggil ke Kementerian Luar Negeri atas ucapannya itu, dan kemudian ia meminta maaf.
Namun bagi sejumlah ormas muslim hal itu masih belum cukup.
"Joseph Marino adalah musuh negara. Tindakannya telah menimbulkan ketegangan hubungan ras di negara ini," kata Ibrahim Ali, Presiden ormas Perkasa, diberitakan Global Post.
"Marino harus meninggalkan Malaysia," kata Hasan Ali, pimpinan kelompok Islam JATI. Ia  mendesak pemerintah untuk menutup misi dan tidak menerima utusan dari Vatikan.
Pemerintah telah menyatakan bahwa kata Allah hanya boleh digunakan oleh umat Islam. Penggunaan kata "Allah" dalam Alkitab berbahasa Melayu dapat membingungkan dan dianggap sebagai upaya mencari pengikut.

[hidayatullah]

Dua Pria Diperiksa Terkait Peledakan Masjid Wolverhampton

Dua Pria Diperiksa Terkait Peledakan Masjid Wolverhampton.

Dua orang pria diperiksa atas dugaan terkait tindakan terorisme atas Masjid Wolverhampton, lansir Guardian.
Polisi mengevakuasi jalan di kawasan dekat Masjid Wolverhampton pada Kamis malam (18/07/2013), setelah mendapat laporan ditemukan barang yang diduga alat peledak.
Area di sekitar masjid ditutup pada pukul 8 malam waktu setempat, saat tim penjinak bom dari militer diterjunkan memeriksa benda itu.
Polisi West Midlands mengatakan, mereka bertindak berdasarkan informasi tanggal 28 Juni lalu yang menyebutkan bahwa ada peledak yang sudah diaktifkan.
Para detektif menghubungkan laporan itu dengan serangan terbaru yang terjadi di dekat masjid-masjid lain di wilayah West Midlands.
Hari Kamis kemarin polisi menangkap dua orang dalam kaitannya dengan ledakan bom tanggal 21 Juni yang menarget masjid-masjid di Walsall dan Tipton. Kedua pria itu disebut sebagai pria Eropa Timur berusia 22 tahun dan 25 tahun.
Penangkapan keduanya dilakukan tidak lama menjelang pukul 3 petang di daerah Small Heath di Birmingham, di mana jalan sedang ditutup aparat tim pemusnah bom.
Jumat pekan lalu penduduk setempat dievakuasi setelah ledakan di dekat Masjid Kanzul Iman di Tipton menyisakan paku-paku dan puing bertebaran di mana-mana. Tidak ada korban luka dalam peristiwa itu, namun sejumlah properti dilaporkan mengalami kerusakan kecil.
Sebuah komponen kecil bagian dari apa yang dicurigai sebagai bom paku ditemukan di taman dekat lokasi kejadian. Tim penjinak bom dari angkatan darat dipanggil untuk melakukan ledakan terkendali.
Peristiwa itu menyusul ledakan di dekat Masjid Aisyah di daerah Caldmore di Walsall bulan lalu, di mana lebih dari 100 penduduk di daerah itu dievakuasi dari rumah-rumah mereka. Ledakan pada 21 Juni itu tidak menimbulkan korban jiwa, namun menyebabkan kerusakan di dinding dekat masjid.

[hidayatullah]